Mencukur ‘Rambut’

Kenapa Nabi menyarankan kita untuk mencukur rambut kemaluan menjelang malam pertama?

hari Jumat kemarin, saya tiba-tiba terpikirkan pada sebuah jawaban. entah benar atau tidak. aku mencoba menuliskannya di sini, barangkali ada di antara kawan yang punya pendapat yang lain sehingga bs dikompromikan.

jawaban yang tiba2 sempat melintas di benak saya:
barangkali suatu saat nanti, ketika salah satu pasangan merasa jenuh dengan “aktivitas malam” mereka, salah satu dari pasangannya bisa berinisiatif mencukur rambutnya.

hal itu barangkali dapat kembali mengingatkan pasanganya yang jenuh pada aktivitas pada malam pertama–pada saat bersemangat. diharapkan akan timbul gairah dan semangat baru.

bagaimana menurut Anda?

40 Hari Membuktikan Keajaiban Shalat Dhuha (Hari 2)

Pascaterpilih menjadi Ketua Umum Wasiat, tugas dan sekaligus beban pertama yang harus saya hadapi adalah pengadaan base camp. Tugas ini terasa berat karena uang kas Wasiat “warisan” dari pengurus sebelumnya adalah minus 500 ribu. Padahal, warga Wasiat yang menghuni base camp tidak bisa diminta untuk langsung menyetor uang dalam jumlah banyak sekaligus. Pada periode yang lalu, mereka bahkan mencicil bayaran kontrak base camp sebanyak 50 ribu/bulan.

Sebenarnya, pertengahan bulan ini jatah kontrak base camp sudah habis. Pemilik kontrakan, Haji Sugeng, memberi toleransi hingga akhir bulan untuk meminta kepastian. Aku sendiri lagi pusing. Cadangan duitku lagi menipis dan tak mungkin cukup buat bayar DP.

Dalam kebingungan, pagi itu aku kirim SMS ke Neng Aniq, bendahara pengurus sebelumnya yang juga putri Kiai di Pondokku. SMS itu berisi permintaan solusi untuk mengatasi masalah ini. Dia langsung balas menelpon. Katanya, pengurus sebelumnya sempat meminta uang sumbangan pada Pak Taufikurrahman Saleh, anggota DPR, yang merupakan salah satu Dewan Penasehat Wasiat, untuk keperluan acara MUBES II. Namun, hingga MUBES II selesai, beliau belum ngasih. Nah, Neng Aniq memberi saran agar aku kembali menghubungi beliau. Siapa tahu dapat uang lumayan buat DP base camp. Pak Taufik sendiri rutin memberikan sumbangan untuk Wasiat. Termasuk untuk base camp tahun kemarin.

Alhamdulillah, bagiku ini adalah salah satu titik terang pemecahan masalah yang mungkin juga rezeki yang tak terduga.

Yang kedua, hari ini adalah hari terakhir masa kontrakku di Cicero Publishing. Namun, hingga sore ini (saat aku menuliskan tulisan ini), belum ada pembicaraan mengenai kelanjutan kontrak kerja. Namun, anehnya aku merasa tenang-tenang saja. Seakan tidak terjadi apa-apa. Sebenarnya, dalam hati aku yakin dengan kedahsyatan shalat Dhuha ini, dan mencoba menunggu “kejutan” seperti apa yang akan terjadi padaku.

Malam harinya, waktu pulang di kosan, tetangga kosan yang kemarin ngasih jeruk, malam itu pulang sambil membaca sebungkus plastik berisi apel besar. Dia membagi sebuah untukku. Alhamdulilah, sudah lama sekali aku tidak membeli atau makan apel. Selain karena tidak ada budget juga tidak terlalu ingin. Terima kasih. :-)