Ustadz Abdul Hakim Abdat yang Saya Kenal

Sebuah tulisan di blog, tak sengaja saya temukan. Mulai judul hingga penutup, tulisan itu berisi hujatan terhadap Ustadz Abdul Hakim Abdat. Syaa tak mengenal jauh ustadz yang satu ini. Tapi, saya kira hampir semua anak lipia atau alumni lipia mengenalnya. Tak bermaksud membela beliau, hanya sedikit berbagi informasi tentang pengetahuan saya atas belliau.

Di antara komentar miring penulis blog, adalah kata2 buruknya terhadap LIPIA. Mungkin inilah yang membuat saya tergerak utnuk menuliskan catatan ini. Tema “Lipia yang saya tahu” mungkin saya akan tuangkan saja pada kesempatan lainnya. Untuk kali ini, biar tak terlalu melebar, saya hanya akan mencatat sedikit pengetahuan saya tentang ustadz AHA.

Dulu, ketika masih di LIPIA. Hampir setiap hari di meja yang terletak di tengah2 perpustakaan LIPIA, saya mendapartkan soeorang lelaki gagah setengah baya, jenggotnya menjuntai panjang, tatap matanya tajam, wajahnya memancarkan entah ketegasan atau kecurigaan–pada orang lain yang dari penampilannya tak seperti “golongannya”.

Sya selalu terkesima dengan rajinnya. Ia begitu kuat duduk di kursinya. Dengan bertumpuk2 buku tebal di atas meja di depannya. Ia tak henti membaca dari satu buku ke buku lainnya. Terkadang ia mencatat–mungkin bagian2 yang dianggap penting. Orang ini hampir tak pernah meninggalkan kursinya selain utnuk shalat jamaah di lantai atas di asrama lipia. Terkadang ia melayani pertanyaan beberapa orang mahasiswa yang kebetulan datang ke perpustakaan–untuk membaca atau khusus ntuk mencari ‘fatwanya’.

Belakangan, saya tahu dia adalah Abdul Hakim Abdat. Tokoh anutan kaum salafy Indonesia. Penceramah di berbagai majelis dan penulis beberapa buku tebal. Buku yang mencengangkan saya, tentu saja, buku tentang ensiklopedi bi’dah. bukunya tebal dan memuat beraneka macam kebiasaan masyarakat Indonesia yang menurutnya bid’ah.

Saya pribadi, hampir tak pernah berbincang-bincang lama, kecuali sekadar menyapa saat bertemu di perpus. Itu pun tak akan lama. Secara pribadi, saya merasa sudah tidak nyaman dengan tatapan mata menyelidiknya. Aku bukan termasuk orang yang membiarkan jenggotku menjuntai panjang, aku bukan termasuk orang yng memotong celanaku hingga atas sekali, aku juga bukan orang yang berjubah, tak ada pula bekas hitam di dahi saya.

Tapi, aku menghormatinya. Kagum dengan betapa rajin dan giatnya dia membaca. Tak banyak ustadz atau kiai yang masih tetap disiplin membaca banyak buku setelah ia “resmi” dinobatkan menjadi kiai.

Bagi mereka yang menghujatnya, saya kira perlu diskusi lebih mendalam dan tajam bersamanya. Begitu pula dengan Ustadz Abdul Hakim perlu mencoba membuka diskusi dengan mereka yang menentangnya. Sungguh, Jalan ini adalah jalan selamat. Jadi, tak akan ada yang salah dengan Jalan ini, kecuali karena kesalahan musafirnya.

Wassalam…

Published in: on April 29, 2010 at 5:17 am  Komentar (3)  

Mentalqin Orang Mati

Dalam Nabi saw. disebutkan

لقنوا موتاكم لا إله إل االله

dalam redaksi yang lain disebutkan:

لقنوا أمواتاكم لا إله إل االله

redaksi hadits di atas menggunakan kata ‘mauta’(orang mati) dan ‘amwat’ (orang-orang mati). ada kekeliruan pemahaman terhadap hadits tersebut dengan mendasarkan pada redaksi hadits. aplikasinya adalah dengan membacakan talqin, menuntun kalimat tauhid di kuburan, saat sang mayit sudah mati dan masuk ke dalam kubur. padahal, saat itu, di dalamnya ia sudah tak sanggup lagi melakukan apapun atau mengubah nasibnya, walau ditalqin ribuan kali sekalipun.

dalam Hasyiyah Kitab Sunan Nasai, Imam Suyuthi mengatakan bahwa maksud dari kata ‘mauta’ dalam hadits tersebut adalah orang yang mendekati kematian. dengan harapan agar kalimat terakhir yang diucapkan oleh mayit adalah kalimat tauhit ‘La ilaha illallah.’
Sehingga, saat dalam keadaan sekarat, si calon mayit telah mengucapkannya, tidak perlu menuntunnya (talqin) lagi. Kecuali, apabila dia mengucapkan kalimat lainnya. Harus ditalqin lagi.

Menurut Imam Qurtubi, talqin dilakukan ketika seseorang mendekati kematian. “Ingatkan mereka pada kalimat La Ilaha Illallah.”
Terkait penggunaan kata ‘mauta’ dalam hadits, sebab kematian memang telah dekat pada orang tersebut.

menurut Imam Nawawi, maksud ‘mauta’ adalah orang yang didatangi kematian. Jadi, maksud hadits tersebut adalah ingatkanlah mereka dengan kalimat La Ilaha Illallah, agar itu menjadi kalimat terakhir yang diucapkannya.
Sebagaimana dalam sebuah hadits Nabi saw, “Siapa yang kalimat terakhirnya adalah La Ilaha Illallah, ia masuk surga.”

[Syarah Hadist Sunan Nasa'i]

Published in: on April 27, 2010 at 3:16 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.