Nabi Tak Mencari Dunia

“Bukalah jalan untukku, agar aku bisa berjalan di muka bumi. Agar ku bisa menolong orang-orang lemah, membantu yang terzalimi, mengembalikan kehormatan manusia, dan menjadikan akal sebagai petunjuk utama,” Muhammad berharap para orang-orang Quraisy.

“Tidak!” jawab mereka tegas. Mereka sama sekali tak memberikan kesempatan beliau melakukan tugas-tugas mulia itu.

“Kalau begitu, tolong sebarkan risalahku agar merata di setiap masa. Sungguh, risalah ini tak hanya untuk satu bangsa dan bukan hanya untuk sehari saja,” Muhammad mencoba menawar.

“Tidak!!!” tolak mereka sekali lagi. “Begini saja, maukah kamu kami jadikan raja kami, kami berikan harta kami padamu, dan kami jadikan kamu pemimpin seluruh bangsa ini. Kami akan berikan seperti apa yang diperoleh Kaisar Romawi dan Kisra Persia,” rayu mereka.

Namun, Muhammad menolaknya. Kekuasaan, harta, dan kehormatan bukanlah tujuannya. Semua itu sama sekali tak ada dalam niatnya. Yang dia inginkan hanyalah menyampaikan risalah yang diamanatkan Allah padanya.

Maka, mulailah kaum Quraisy itu berlaku keji pada beliau. Mereka tebar duri di jalan yang biasa beliau lewati. Mereka tumpahkan ari-ari unta di kepala beliau saat bersujud. Mereka lempari beliau dengan batu saat di Thaif hingga darahnya mengucur. Namun, tak satu pun itu membuat beliau marah atau mendendam pada mereka. Malah, saat Jibril menawarkan untuk menampar orang-orang Thaif itu, apa jawab Nabi? Doa beliau, “Ya Allah berilah petunjuk pada kaumku, karena mereka tidak mengerti.”

Published in: on September 20, 2010 at 3:53 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Ustadz Abdul Hakim Abdat yang Saya Kenal

Sebuah tulisan di blog, tak sengaja saya temukan. Mulai judul hingga penutup, tulisan itu berisi hujatan terhadap Ustadz Abdul Hakim Abdat. Syaa tak mengenal jauh ustadz yang satu ini. Tapi, saya kira hampir semua anak lipia atau alumni lipia mengenalnya. Tak bermaksud membela beliau, hanya sedikit berbagi informasi tentang pengetahuan saya atas belliau.

Di antara komentar miring penulis blog, adalah kata2 buruknya terhadap LIPIA. Mungkin inilah yang membuat saya tergerak utnuk menuliskan catatan ini. Tema “Lipia yang saya tahu” mungkin saya akan tuangkan saja pada kesempatan lainnya. Untuk kali ini, biar tak terlalu melebar, saya hanya akan mencatat sedikit pengetahuan saya tentang ustadz AHA.

Dulu, ketika masih di LIPIA. Hampir setiap hari di meja yang terletak di tengah2 perpustakaan LIPIA, saya mendapartkan soeorang lelaki gagah setengah baya, jenggotnya menjuntai panjang, tatap matanya tajam, wajahnya memancarkan entah ketegasan atau kecurigaan–pada orang lain yang dari penampilannya tak seperti “golongannya”.

Sya selalu terkesima dengan rajinnya. Ia begitu kuat duduk di kursinya. Dengan bertumpuk2 buku tebal di atas meja di depannya. Ia tak henti membaca dari satu buku ke buku lainnya. Terkadang ia mencatat–mungkin bagian2 yang dianggap penting. Orang ini hampir tak pernah meninggalkan kursinya selain utnuk shalat jamaah di lantai atas di asrama lipia. Terkadang ia melayani pertanyaan beberapa orang mahasiswa yang kebetulan datang ke perpustakaan–untuk membaca atau khusus ntuk mencari ‘fatwanya’.

Belakangan, saya tahu dia adalah Abdul Hakim Abdat. Tokoh anutan kaum salafy Indonesia. Penceramah di berbagai majelis dan penulis beberapa buku tebal. Buku yang mencengangkan saya, tentu saja, buku tentang ensiklopedi bi’dah. bukunya tebal dan memuat beraneka macam kebiasaan masyarakat Indonesia yang menurutnya bid’ah.

Saya pribadi, hampir tak pernah berbincang-bincang lama, kecuali sekadar menyapa saat bertemu di perpus. Itu pun tak akan lama. Secara pribadi, saya merasa sudah tidak nyaman dengan tatapan mata menyelidiknya. Aku bukan termasuk orang yang membiarkan jenggotku menjuntai panjang, aku bukan termasuk orang yng memotong celanaku hingga atas sekali, aku juga bukan orang yang berjubah, tak ada pula bekas hitam di dahi saya.

Tapi, aku menghormatinya. Kagum dengan betapa rajin dan giatnya dia membaca. Tak banyak ustadz atau kiai yang masih tetap disiplin membaca banyak buku setelah ia “resmi” dinobatkan menjadi kiai.

Bagi mereka yang menghujatnya, saya kira perlu diskusi lebih mendalam dan tajam bersamanya. Begitu pula dengan Ustadz Abdul Hakim perlu mencoba membuka diskusi dengan mereka yang menentangnya. Sungguh, Jalan ini adalah jalan selamat. Jadi, tak akan ada yang salah dengan Jalan ini, kecuali karena kesalahan musafirnya.

Wassalam…

Published in: on April 29, 2010 at 5:17 am  Comments (3)